‘Nyamannya’ hidup di jakarta

Monas
Delapan bulan yang lalu, tepatnya di bulan November 09, saya menyumbang angka untuk sensus penduduk Jakarta alias saya mencoba menjadi penduduk tetap kota Jakarta. Kesan pertama saya datang ke kota ini adalah sumpek, sumpek oleh macet, polusi, dan antrian. Inilah yang menjadi kendala saya untuk hidup di Jakarta.
Bayangkan, untuk bepergian (bukan sekedar muter-muter komplek rumah), kamu harus meluangkan waktu rata-rata setengah jam hanya untuk berkutat dengan kemacetan (catat: macetnya saja, belum jaraknya). Itu berarti jika kamu berangkat kerja pagi-pagi, kamu harus merelakan setengah jam dari waktu tidurmu untuk nyemplung di kemacetan.
Ada cara cepet untuk kamu melalui kemacetan. Yap, naik motor. Tapi kekurangannya adalah banyak asap bis, bajaj, mobil, dlsb yang dengan terpaksa kamu hirup. Belum lagi cuaca Jakarta yang panas menyengat. Kendala tersebut memang bisa dihapus kalau kamu naik mobil, tapi kamu akan memakan waktu berkali-kali lipat dari kamu naik motor.
Lewat jalur alternatif? Yang saya kurang senang lewat jalur alternatif adalah banyak banget polisi tidurnya, atau bahkan jalan berlubang.
Kalau sudah begitu, memang enaknya naik kendaraan umum massal, seperti bis transjakarta yang memiliki jalur eksklusif. Tapi yang membuat saya sangat malas untuk naik bis ini adalah antriannya, apalagi kalau harus transit.
Itu baru berangkat kantornya. Nanti ketika kamu pulang kantor, kamu akan menghadapi kendala serupa, tapi dengan kondisi kamu yang sudah lelah. Weks benar-benar bikin malas. Gimana ga malas kalau kemacetan depan kantor adalah seperti ini:

Macet di salemba
atau ini

Macet Salemba besoknya
Duh apa jadinya Jakarta 5 taun lagi ya. Sekarang aja macetnya udah bikin gila. Apalagi Jakarta tiap bulannya kedatangan alumni-alumni baru pencari kerja. Bisa-bisa seperti di Cina, macet 100 km selama 9 hari. Wuidih..jangan sampe ah. Ayo pemerintah, pikirin ini gimana caranya biar ga macet lagi. Si komo udah ga lewat-lewat lagi koo..
Incoming search terms:
tips hidup di jakarta, cara hidup di jakarta, SALEMBA BENGKEL, hidup hemat di jakarta, hidup dijakarta, hidup di jakarta persiapan, hidup di jakarta blogspot, tips hidup di jakarta 2011, tips hidup hemat dijakarta, tips tinggal di jakartaYou can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.
No place like home!itu aja prinsip ane…Gak pengen ane ksana!ngapain juga siksa diri?kaya atawa sukses kgak wjib dJKT,bro!jaman IT gne,ente bs jd kaya mskpun tggal d daerah!
Kalo Jakarta udah penuh,. jangan pindah ke Bogor ya…

Bogor juga udah penuh ma angkot
@joel: ntar kalo ada kesempatan
@petra: tp sempet di jakarta kan?
ke hutaaaaaaan.. hutaaaaaaaaaaan.. back to nature..