Antara momentum politik, kejujuran, dan tekanan

Rapat Paripurna Ricuh

Rapat Paripurna Ricuh

Dua tiga hari belakangan ini (2-4 Maret 2010) acara pertelevisian tanah air kita diramaikan dengan panggung acara bernama Rapat Paripurna. Acara tersebut sangat menarik untuk disimak dan bahkan saking ramainya, salah satu TV swasta menamakan acara tersebut Grand Final Rapat Paripurna.

Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan tontonan politik ini. Tapi mata saya langsung tidak bisa lepas dari TV begitu rapat ini berlangsung ricuh. Saya begitu “terganggu” dengan pemimpin rapat yang tidak bisa mengendalikan situasi dengan begitu banyaknya interupsi hingga akhirnya pemimpin rapat menutup rapat secara sepihak. Menurut saya ini tindakan yang logis. Namun yang saya sayangkan adalah adanya 1 orang anggota dewan yang lompat ke tempat pimpinan, melempar sesuatu dan menunjuk ke muka pimpinan sambil marah2. Tindakan tersebut menurut saya memancing anggota dewan lain yang sudah marah2 di bawah hingga akhirnya ikut naik dan menunjuk2 pimpinan rapat. Yang menjadi pertanyaan, pantaskah mereka berbuat seperti itu?

Setelah tayangan itu, saya kembali diperlihatkan oleh tindakan mengganggu lainnya yg diperagakan oleh beberapa anggota dewan, salah satunya adalah politisi bergelar bangsawan KRMT. Dengan tanpa bersalah, cengar cengir berteriak “huuu…” berkali2 ketika ada yg menyebutkan fraksi2 yang mengajukan opsi C (bailout bermasalah). Lagi2 pertanyaan yang diajukan adalah, pantaskah perbuatan seperti itu ada di dalam rapat terhormat?

Hari berikutnya adalah hari yang disebut Grand Final Rapat Paripurna karena hari itu adalah hari dimana pengambilan keputusan sikap DPR apakah bailout bermasalah atau tidak. Partai Golkar, PDIP, Gerindra, Hanura, PKS tetap konsisten dengan menganggap bailout bermasalah. Yang membuat lucu adalah muncul sebuah opsi penggabungan A dan C. Apakah bisa menggabungkan minyak dan air?

Yang ingin menjadi sorotan saya di hari itu adalah voting terbuka. Kenapa ya mesti voting terbuka? Mungkin kalau voting diadakan tertutup, takutnya akan lebih banyak yang membelot dengan memilih opsi C. Kan kalau voting terbuka, akan keliatan siapa2 aja yang memilih opsi A atau C.

Voting terbuka ini memiliki unsur2 batin juga lho didalamnya. Beberapa fraksi mengganggap ini adalah momentum politik yang tepat untuk mencari simpati masyarakat. Bodo amat dengan berbagai ancaman, termasuk perceraian koalisi. Mungkin seperti itu yang dipikirkan beberapa fraksi. Yang terpenting buat mereka adalah mereka punya image bagus dimata masyarakat sebagai modal pemilu 2014.

Anggota dewan dalam memilih pun mungkin ada konflik batin di dalamnya. Antara mereka harus patuh terhadap keputusan pimpinan fraksi atau berkata sesuai dengan kehendak hati. Dan yang paling unik adalah adiknya alm. Gus Dur. Dengan berani dia adalah satu2nya dari PKB yang mengacungkan diri memilih opsi C. Dan bisa ditebak, SP1 adalah ganjaran untuknya.

Voting ko dipaksa ya bu? Klo hati mau milih C, just go on. Jgn takut sama SP1, karena ada sesuatu dibelakangmu bernama rakyat.

No related content found.

Incoming search terms:

politik ricuh

Tags: ,


You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.


AddThis Social Bookmark Button


Leave a Reply