Goodbye

dengan dasi bikinan si pacar
23 Oktober 2009
Jatuh pada hari jumat, yaitu 1 hari sebelum saya di wisuda dari kampus tercinta. Semua yang diperlukan untuk wisuda telah saya persiapkan dengan baik, tak terkecuali memastikan si pacar datang. Saya ingin yang mengantarkan mama papa bukan LO, tapi si pacar, yang katanya besok akan memberikan kejutan untuk saya. Tersirat sih, tapi saya bisa menangkap pancaran dari sinyal gerak tubuhnya. Tapi saya tidak memaksa dia untuk memberitahukan kejutannya walaupun saya menjadi sangat penasaran.
24 Oktober 2009
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari dimana saya akan melepas status lajang, eh status mahasiswa sarjana di ITB. Pukul 5.45 saya bangun dan mulai sarapan. Semuanya berjalan lancar hingga kami sekeluarga tiba di lokasi parkir IF ITB. Masih sepi, karena mungkin teman-teman sudah berkumpul langsung di sabuga. Lalu saya pun mengajak kedua orang tua saya untuk berjalan menyusuri terowongan menuju sabuga. Papa saya pun tiba2 bertanya, “wulan mana?” Waw..kaget saya mendengarnya. Lalu saya jawab dia ntar dateng ketika acara akan selesai. Semua wisudawan dan orang tua telah masuk ke dalam sabuga. Lumayan panas hingga membuat saya harus berkipas-kipas.
Jam 8an lewat, si pacar menelpon dengan suara panik, mengabarkan dia harus ke jakarta karena papa nya tiba2 masuk ke rumah sakit. Deg, seketika saya menjadi sangat khawatir tapi saya berusaha untuk tenang dan menenangkan serta meyakinkan dia bahwa semuanya akan baik2 saja. Tapi tidak sampai 1/2 jam, si pacar mengabarkan papanya telah meninggal dunia. Inna lillahi wa inna illahi rajiun
Sedih sekali mendengarnya. Ya Tuhan, sempat saya berpikir kenapa Engkau memberikan 2 momen bertolak belakang pada saat yang sama. Saya berusaha untuk tetap tenang karena saya sadar saya wajib untuk menenangkan si pacar pada saat2 seperti ini.
Wisuda selesai 1 jam lebih cepat dari susunan acara. Alhamdulillah. Selesai makan, kami sekeluarga pun bertolak ke Jakarta untuk melayat. Suasana sedih sangat terasa begitu mendengar keterangan mama wulan. Katanya, semua terjadi begitu cepat tanpa ada indikasi. Takdir Tuhan memang misterius.
Oh ya, akhirnya saya di beri tahu bahwa kejutan yang akan diberikan wulan adalah kejutan dari papanya. Papa wulan ingin datang diam2 ke bandung untuk memberikan selamat pada acara wisuda saya.
Namun Tuhan berkehendak lain. Walaupun begitu, saya sangat sangat tersanjung dengan niat papa wulan. Berat rasanya mengucapkan 2 salam perpisahan. Selamat tinggal ITB, selamat jalan Pa Mawardi. Semoga amal ibadahmu diterima di sisiNya dan segala kesalahan diampuni olehNya.
& Komentar
Other Links to this Post
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. TrackBack URI

By Ismi, 15 November 2009 @ 17:49
Aku ikut berduka cita… (maaf telat, baru baca postan kakak disini..
)
Sedih yaaa..aku bacanya udah pengen nangis, aku jadi ikut merasakan kalo seandainya aku yg seperti itu di pihak kakak atau ka wulan
kita sbg manusia hny bs berencana, tapi Allah tahu apa yang terbaik untuk kita semua..semua itu pasti ada hikmahnya..
By Latu, 25 Maret 2010 @ 14:06
Sedih sih, tp berdoa saja, karena hanya itu skarang yg bisa kita lakukan utk beliau