Jakarta bombing, July 17th, 2009
Tulisan ini bermula dari pikiran yang tiba2 datang ke kepala saya. Kalau ga salah, tanggal 15 Juli 2009, saat saya menatap monitor komputer, tiba2 terlintas nama Noordin M. Top. Ntah kenapa tiba2 nama tuh orang datang begitu saja.
Tanggal 17 Juli 2009, saya dikejutkan oleh berita adanya pengeboman di 2 hotel mewah di Jakarta. Dan yang lebih mengejutkan lagi, setelah diteliti bentuk bom dan segala macamnya, kompas.com menyebutkan bahwa Noordin M. Top berada di balik peristiwa tersebut. Wow..
Tulisan di atas adalah mungkin hanya suatu kebetulan untuk menarik minat membaca dulu. Yang saya soroti adalah kebiasaan masyarakat Indonesia datang ke lokasi untuk menonton. Bahkan terkadang sambil membawa serta anak2 mereka.
Hal ini tentu saja tidak membawa dampak positif kepada anak2 tersebut jika tanpa diberikan pemahaman. Seharusnya masyarakat cukup menonton lewat layar kaca dan berikan penjelasan yang benar kepada anak2 mereka sehingga diharapkan ada rasa empati dan kemanusiaan yang muncul dari anak2 tersebut. Menonton lewat televisi juga menghilangkan resiko terjadi kenapa2 di lokasi kejadian karena mungkin saja ada ledakan susulan di lokasi tersebut. Juga untuk mempermudah polisi dan pihak medis untuk mengevakuasi para korban.
Jadi..hilangkanlah budaya wisata bencana.. Karena menurut pakar psikologi, para korban terkadang tidak suka dirinya menjadi tontonan..
Oh ya, turut berduka cita untuk para korban dan keluarganya
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.
Leave a Reply