Selamat jalan nenek..
Tanggal 9 Juni 2009 jam 8.00, kamar saya diketuk dengan keras oleh suster yang menjaga kakek nenek saya. Saya diminta untuk ke rumah sakit untuk mendaftar ke dokter jantung agar nenek saya bisa langsung diperiksa begitu datang ke rumah sakit. Belakangan saya baru tahu kalau nenek saya sesak nafas jam 1/2 1 pagi.
Sampai jam 1/2 10 pagi saya menunggu di depan ruang periksa dokter jantung. Saya heran kenapa nenek saya belum datang2 juga, padahal sudah hampir 2 jam saya menunggu. Akhirnya saya menelpon tante yang akan mengantar nenek ke rumah sakit. Ternyata nenek saya ada di UGD dari jam 9 pagi.
Saya pun langsung ke UGD. Dan benar nafas nenek saya tersengal2 sampai harus dibantu oksigen. Cukup lama kami menunggu di UGD untuk bisa mendapatkan kamar untuk rawat inap nenek saya. Jam 2 siang saya pulang karena saya sudah sangat mengantuk akibat baru tidur jam 4 pagi.
Akhirnya sekitar jam 4 sore, nenek saya bisa mendapatkan kamar. Hingga hari ke 5 (klo ga salah) keadaan nenek saya sudah agak membaik sehingga besoknya mau diputuskan untuk home care saja. Namun besoknya nenek saya kritis. Bahkan malamnya nenek saya sudah tidak merespon ketika di rangsang. Nenek saya tetap tertidur ketika tubuhnya digoyang, ditusuk pake jari, dsb.
Tanggal 17 Juni semua keluarga sudah berkumpul. Bahkan tante saya sudah menyuruh pembantu di rumah untuk membersihkan ruang tamu, mengeluarkan kursi2, dan memasang karpet.
Beberapa jam setelah saya datang ke rumah sakit, kakek saya datang. Begitu melihat keadaan nenek, kakek saya pun menangis, sesuatu yang baru pertama kali saya lihat. Semua sangat sedih menyaksikan kejadian itu. Tangan kanannya memegang tangan nenek dan tangan kirinya menyeka air mata. Kakek saya pun berkata bahwa “ini sudah selesai”
Hanya sebentar kakek saya langsung ingin pulang. Sesuatu yang tidak pernah terjadi karena biasanya kakek saya selalu ingin di rumah sakit kalau nenek sedang dirawat.
Jam 1/2 pagi saya pulang bersama kakak saya karena saya masuk angin. Saya baru tidur 1 jam ketika hp kakak saya berdering. Katanya nenek saya keadaannya merosot tajam. Kakak saya pun langsung bersiap. 5 menit kemudian telp rumah berdering dan diangkat oleh suster.
Sambil menunggu kakak saya bersiap, saya iseng menanyakan siapa yg telp pagi2 begini ke suster. Ternyata itu telp dari sepupu saya yg ada di rumah sakit bilang kalau nenek saya sudah meninggal.
Innalillahi wa innaillahi raji’un..
Selamat jalan nenek, semoga amal ibadah nenek diterima disisiMu ya Allah dan semoga salah dan dosanya diampuniMu ya Allah. Semoga nenek tenang disana.
Dan tolong dimaafkan kalau nenek saya (Ny. Roeb) ada salah kepada siapapun yang membaca tulisan ini.
1 Komentar
Other Links to this Post
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. TrackBack URI

By irfan, 16 Juli 2009 @ 11:48
Innalillahi wa innaillahi raji’un..
Baru tau Tu,, turut berduka..